SULAWESI BARAT — Keputusan ini bukan sekadar restrukturisasi internal. Bagi Telkom, pemisahan ini adalah upaya serius untuk mengubah wajah bisnis infrastruktur digital Indonesia agar lebih lincah dan kompetitif. Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan inisiatif Danantara Asset Management dalam mengonsolidasikan aset-aset BUMN.
"Spin-Off InfraCo Tahap 2 merupakan langkah strategis dalam perjalanan transformasi TLKM 30 untuk memperkuat InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru," ujar Dian dalam keterangan resminya.
InfraNexia: Pengelola Jaringan Sepanjang 3 Kali Keliling Bumi
Setelah proses pengalihan portofolio bisnis rampung, InfraNexia akan menguasai hampir seluruh aset jaringan Telkom. Jumlahnya fantastis: sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik. Jika dibentangkan, panjangnya hampir setara tiga kali keliling bumi.
Dengan kepemilikan aset ini, InfraNexia diposisikan sebagai pilar utama bisnis wholesale connectivity. Fokusnya jelas: membangun dan mengelola infrastruktur konektivitas digital nasional yang netral dan andal, melayani tak hanya TelkomGroup tetapi juga pelanggan eksternal.
Meski sahamnya mayoritas dipegang Telkom (lebih dari 99 persen), InfraNexia akan tetap beroperasi secara profesional dan independen dalam melayani seluruh pelanggannya.
Mengapa Telkom Berani Memisahkan Aset Terbesarnya?
Logika di balik langkah ini sederhana: dengan memisahkan aset infrastruktur ke entitas khusus, pengelolaannya menjadi lebih fokus dan efisien. Telkom ingin bergerak lebih cepat menangkap peluang pasar, terutama di tengah persaingan bisnis data center, tower, dan jaringan fiber yang kian ketat.
Ini juga bagian dari strategi unlock value—memaksimalkan nilai dari aset-aset bernilai tinggi yang selama ini dimiliki. Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menyebut langkah ini sebagai implementasi nyata penataan portofolio untuk membangun fondasi pertumbuhan berkelanjutan.
"Melalui pembentukan InfraNexia, Telkom tidak hanya mengoptimalkan pemanfaatan aset dan meningkatkan fleksibilitas dalam mengembangkan peluang kemitraan, tetapi juga menciptakan fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan," kata Seno.
Dampak ke Pelanggan: Layanan Lebih Cepat dan Andal
Bagi pelanggan, terutama pengguna fixed broadband, pemisahan ini diharapkan membawa perbaikan layanan yang nyata. Dengan pengelolaan infrastruktur yang lebih fokus, proses perbaikan gangguan dan perluasan jangkauan diharapkan lebih responsif.
Dian menambahkan, kehadiran InfraNexia membuat Telkom optimistis menghadirkan layanan yang lebih cepat, andal, dan berkualitas. "Sehingga mampu memberikan customer experience yang terbaik bagi pelanggan," ujarnya.
Dalam jangka panjang, langkah ini juga mendukung percepatan pemerataan konektivitas digital di Indonesia. InfraNexia diharapkan menjadi tulang punggung ekosistem digital nasional yang lebih terbuka dan kompetitif, sejalan dengan transisi Telkom menjadi strategic holding yang fokus pada penciptaan nilai dan sinergi antarentitas.