SULAWESI BARAT — Perum Bulog menyatakan keterlambatan penyaluran jagung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) disebabkan gangguan distribusi, termasuk penutupan sementara Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan hal itu dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (9/10/2026), menyusul keluhan sejumlah peternak yang belum menerima pasokan. Bulog kini berkoordinasi dengan Pelindo dan ASDP agar jalur distribusi kembali normal.
Paragraf pembuka: Keluhan peternak soal jagung SPHP yang tak kunjung datang mendapat penjelasan langsung dari Bulog. Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan persoalan utama bukan pada ketersediaan stok, melainkan pada terhambatnya jalur pengiriman ke daerah tujuan.
Ketapang Sempat Tutup, Pengiriman Terganggu
Rizal menyebut penutupan sementara Pelabuhan Ketapang menjadi salah satu titik macetnya distribusi. Pelabuhan itu menjadi jalur utama perpindahan barang dari Jawa ke Bali dan wilayah timur, sehingga gangguan di sana berdampak berantai pada jadwal pengiriman.
"Masalah keterlambatan dan sebagainya karena proses (pengiriman). Karena kemarin kita ketahui bersama Pelabuhan Ketapang sempat tertutup," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Dia tidak merinci berapa ton jagung yang tertahan maupun berapa lama pelabuhan tersebut ditutup. Yang jelas, menurut Rizal, hambatan itu cukup membuat jadwal penyaluran ke peternak meleset dari rencana awal.
Bulog Minta Kapal Pangan Diberi Prioritas
Bulog telah berkoordinasi dengan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo dan PT ASDP Indonesia Ferry. Dua operator itu diminta membuka kembali jalur distribusi dan memberi prioritas bersandar bagi kapal pengangkut bahan pangan di sejumlah pelabuhan.
Langkah tersebut dinilai penting karena jagung termasuk komoditas yang tidak bisa menunggu lama di atas kapal. Keterlambatan bongkar muat berisiko menurunkan kualitas, terutama jika kelembapan selama perjalanan tidak terkendali.
Peternak Bergantung pada Jagung SPHP
Program SPHP jagung dirancang untuk menekan harga pakan di tingkat peternak. Jagung merupakan bahan baku utama ransum unggas, sehingga fluktuasi harganya langsung memukul biaya produksi peternak rakyat.
Ketika pasokan SPHP tersendat, peternak biasanya terpaksa membeli dari pasar umum dengan harga lebih tinggi. Kondisi itu menggerus margin usaha, terutama bagi peternak skala kecil yang tidak punya ruang penyimpanan besar untuk menimbun stok.
Karena itu, kepastian jadwal pengiriman menjadi kunci. Bulog perlu memastikan tidak ada lagi penumpukan barang di titik transit yang membuat pasokan tersendat di hilir.
Distribusi Jadi Ujian Berulang
Persoalan logistik bukan hal baru bagi Bulog. Sebagai penyalur bahan pangan lintas pulau, perusahaan pelat merah itu rutin menghadapi kendala cuaca, kapasitas kapal, hingga kepadatan di pelabuhan.
Penutupan Ketapang menjadi pengingat bahwa kelancaran program pangan tidak hanya ditentukan oleh stok di gudang. Koordinasi antarpelabuhan, operator kapal, dan instansi terkait sama menentukan apakah pasokan benar-benar sampai ke peternak sesuai jadwal.
Ke depan, Bulog diharapkan menyiapkan jalur alternatif ketika titik transit utama terganggu. Tanpa itu, keterlambatan serupa berpotensi terulang dan kembali merugikan peternak yang sudah menunggu pasokan.