Gastronomi Indonesia Bertumpu pada Sejarah dan Budaya, Bukan Sekadar Rasa

Penulis: Puguh Triyono  •  Minggu, 04 Oktober 2026 | 10:21:01 WIB
Penghageng Keraton Yogyakarta GKR Bendara berbicara dalam Wonderful Indonesia Gastronomy Talks 2026 di DI Yogyakarta, Jumat (2/10).

SULAWESI BARAT — Kekayaan kuliner Nusantara dinilai belum lengkap jika hanya dijual lewat cita rasa, karena sejarah dan budaya di balik setiap hidangan justru menjadi daya tarik utama wisata gastronomi. Penghageng Keraton Yogyakarta GKR Bendara mencontohkan mengapa masakan Jogja cenderung manis, yakni jejak 19 pabrik gula pada era Sultan Hamengkubuwono VII. Narasi semacam ini yang kini didorong masuk ke pengemasan paket wisata kuliner daerah.

Gelaran Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026 di DI Yogyakarta menghadirkan 22 pembicara dari unsur pemerintah, industri, pegiat seni, hingga akademisi. Forum yang berlangsung Jumat (2/10) itu membahas gastronomi sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi berkelanjutan. Salah satu benang merah yang muncul: cerita di balik makanan sama pentingnya dengan rasanya.

Mengapa Kuliner Jogja Terasa Manis

Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, menegaskan setiap produk wisata gastronomi di Jogja harus punya latar belakang cerita.

"Contohnya, mengapa kuliner Jogja cenderung manis? Karena pada masa Sultan Hamengkubuwono VII, terdapat sekitar 19 pabrik gula di Jogja. Gula menjadi simbol status sosial dan kekayaan bagi keraton, sehingga minuman dan makanan saat itu disajikan sangat manis," kata GKR Bendara.

Rekam sejarah yang terdokumentasi baik, menurutnya, menjadi kekuatan tersendiri bagi gastronomi Yogyakarta. Wisatawan tidak hanya menikmati sepiring makanan, tetapi memahami filosofi dan identitas yang melatarbelakanginya.

Dua Kuliner Langka yang Jarang Tersentuh Wisatawan

GKR Bendara menyoroti dua hidangan langka sebagai contoh kekayaan gastronomi keraton: nasi golong gilig dan dawet sambal. Dawet sambal memadukan dawet manis, sambal pecel, dan tahu dalam satu sajian.

"Karena terkadang orang baru mendengar dawet sambal sudah menolak dulu, karena pikirannya dawet manis kok ada sambalnya. Jadi dawet manis tapi ada sambal pecelnya, jadi ada tahunya tapi ada dawetnya," ujarnya.

Kombinasi rasa yang tidak biasa itu justru menjadi pintu masuk bercerita. Tanpa narasi yang menjelaskan asal-usulnya, wisatawan cenderung ragu mencoba.

Rendang dan Pentingnya Narasi Budaya

Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menambahkan gastronomi perlu dikemas melalui narasi kuat yang berpijak pada nilai budaya. Rendang ia sebut sebagai contoh hidangan yang tidak hanya punya cita rasa khas, tetapi juga menyimpan makna filosofis.

"Gastronomi harus terus dicatat, diwariskan, dan diintegrasikan dengan penataan kota pusaka serta cerita sejarah agar memberikan nilai tambah yang optimal bagi wisatawan," ujar Ramlan.

Pendekatan ini menempatkan kota pusaka seperti Bukittinggi dan Yogyakarta sebagai ruang hidup gastronomi, bukan sekadar lokasi jualan makanan.

Standar Tinggi Konsumen Lokal

Chef Fernando Sindu menyoroti tantangan tersendiri saat menyajikan makanan daerah kepada konsumen Indonesia. Menurutnya, konsumen lokal memiliki standar tinggi karena ada ikatan emosional dengan hidangan yang dikenal sejak kecil.

"Orang Indonesia sangat kritis terhadap makanan lokal karena memiliki kenangan atau ikatan emosional dengan masakan keluarga seperti nenek atau ibu. Jadi penting banget untuk memahami resep dari sumber aslinya di berbagai daerah agar dapat menyajikan makanan yang autentik sekaligus memberikan sedikit sentuhan atau modifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada konsumen," katanya.

Artinya, modifikasi kreatif masih diterima selama akar resepnya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.

Mendokumentasikan Gastronomi Lewat Sketsa

Ilustrator sekaligus pengisah makanan Nugraha Pratama menyebut tantangan menggambarkan makanan bukan pada visualisasi rasa, melainkan menangkap budaya di balik hidangan yang berlatar sejarah panjang.

"Bagian tersulit bukan menggambarkan rasa, melainkan menangkap budaya di balik makanan tersebut karena memiliki latar belakang sejarah yang panjang dan mendalam," ucap dia.

Lewat goresan sketsa, Nugraha berupaya membangun dokumentasi sejarah visual gastronomi. Karyanya merekam cara manusia menikmati kuliner sekaligus berinteraksi sosial pada zamannya.

Bagi traveler yang merencanakan perjalanan kuliner, WIG Talks 2026 memberi petunjuk praktis: pilih destinasi yang menyediakan cerita di balik hidangannya, bukan hanya daftar menu. Yogyakarta dan Bukittinggi masuk kategori itu. Untuk jadwal acara gastronomi lanjutan, informasi terkini dapat dikonfirmasi via dinas pariwisata setempat.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top