SULAWESI BARAT — Lebih dari 850.000 kendaraan listrik yang sudah terjual di China kini terlantar tanpa layanan garansi maupun suku cadang pengganti. Hingga Mei 2026, sedikitnya 23 produsen kendaraan energi baru China bangkrut, dilikuidasi, atau menghentikan operasinya, meninggalkan pemilik kendaraan dengan risiko perbaikan sistem kelistrikan yang tidak jelas dan fitur yang mati total.
Laporan terbaru Sina mengungkap skala masalah yang jarang dibahas dalam narasi adopsi EV global. Ketika produsen, distributor, dan penyedia layanan menghilang dari pasar, konsumen yang sudah membayar lunas tetap menanggung akibatnya. Berbeda dengan mobil bermesin pembakaran internal, kendaraan listrik bergantung pada baterai, perangkat lunak diagnostik, dan server yang terhubung ke pabrikan.
Kendaraan listrik murni adalah segmen yang paling terdampak ketika pemasok menghilang. Ketergantungan pada ekosistem digital membuat masalahnya jauh lebih rumit dibanding mobil konvensional.
Pemilik kendaraan berisiko kesulitan memperbaiki sistem kelistrikan, kekurangan suku cadang, hingga kehilangan fitur yang dianggap standar seperti pembukaan kunci jarak jauh, kunci Bluetooth, dan kontrol suhu jarak jauh. Fitur-fitur ini bergantung pada server pabrikan yang sudah tidak beroperasi.
Fenomena ini sebenarnya bisa terjadi di industri mana pun, tetapi paling sulit terjadi di sektor otomotif. Alasannya, otomotif adalah produk dengan umur pakai panjang, baik dari sisi produk maupun layanan.
Kendaraan dikaitkan dengan pemiliknya selama beberapa dekade dan berdampak langsung pada kehidupan, kesehatan, bahkan nyawa konsumen. Ketika layanan purna jual hilang, nilai jual kembali kendaraan otomatis ambruk.
Kasus ini relevan bagi konsumen Indonesia yang mulai melirik EV dari merek-merek pendatang baru. Sebelum membeli, penting mengecek rekam jejak keuangan pabrikan dan ketersediaan jaringan servis resmi di dalam negeri.
Merek yang belum memiliki fasilitas perakitan lokal atau jaringan dealer luas menyimpan risiko jangka panjang. Jika distributor menarik diri, pemilik kendaraan tidak punya tempat mengklaim garansi baterai yang nilainya bisa mencapai puluhan persen dari harga mobil.
Sina hanya menyebutkan segmen kendaraan energi baru, khususnya kendaraan listrik murni, sebagai yang paling parah terdampak. Angka 23 produsen dan 850.000 unit terlantar menjadi peringatan bahwa pertumbuhan pasar EV yang cepat tanpa fondasi layanan purna jual yang kuat bisa berakhir buruk bagi konsumen.