MAMUJU — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mamuju menempatkan Irwan sebagai ketua umum periode berikutnya setelah forum Konfercab III menyepakati aklamasi. Keputusan itu diambil setelah kepengurusan sebelumnya menjalani evaluasi dalam forum permusyawaratan tertinggi tingkat cabang.
Pergantian kepemimpinan berlangsung tanpa kompetisi terbuka. Seluruh peserta konfercab sepakat menyerahkan mandat kepada Irwan untuk mengarahkan roda organisasi pada periode selanjutnya.
Ketua HMI Cabang Mamuju demisioner, Dahril, menyebut kepengurusan baru menghadapi dua tuntutan sekaligus. Organisasi dituntut memperkuat diri dari dalam, tapi juga tetap menjaga peran di ruang intelektual dan sosial.
"Dalam kepemimpinannya, Irwan kami harapkan mampu memperkuat konsolidasi internal serta membawa HMI tetap aktif dalam pengembangan intelektualitas kader dan kontribusi terhadap berbagai persoalan masyarakat di Mamuju dan Sulawesi Barat," ujar Dahril.
Harapan itu bukan tanpa alasan. HMI Cabang Mamuju memiliki tradisi panjang dalam pengembangan kader, dan keberlanjutan tradisi tersebut bergantung pada kemampuan kepengurusan baru merawat soliditas.
Konfercab juga menempatkan rekonsiliasi dan kebersamaan kader sebagai prioritas. Konsolidasi dinilai menjadi modal awal untuk memastikan pergantian kepemimpinan tidak memunculkan sekat baru di tubuh organisasi.
Pesan itu mengemuka di tengah dinamika organisasi mahasiswa yang kerap menghadapi risiko fragmentasi pasca-konferensi. Kepengurusan baru diminta memastikan seluruh kader tetap berada dalam satu arah gerak.
Irwan mengakui jabatan ketua umum bukan amanah ringan. Ia bahkan menyebut dirinya sempat menolak pencalonan karena mempertimbangkan besarnya tanggung jawab yang akan diemban.
"Ini Amanah yang berat. Saya adalah kader yang paling menolak untuk menjadi ketua karena tanggung jawabnya amat besar. Namun dengan kebersamaan dan kesiapan teman-teman mendampingi, saya Bismillah Insyallah saya akan memberikan yang terbaik," tegasnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa kepemimpinan Irwan bertumpu pada dukungan kolektif kader, bukan pada ambisi personal. Model kepemimpinan semacam ini lazim ditekankan di organisasi berbasis kader seperti HMI.
Fokus kepengurusan baru kini bukan lagi soal siapa yang terpilih. Tantangan berikutnya berada pada kemampuan Irwan dan jajaran pengurus menyatukan kader, menjaga soliditas organisasi, serta menerjemahkan mandat Konfercab ke dalam kerja nyata.
HMI Cabang Mamuju juga menghadapi tuntutan mempertahankan tradisi intelektual kader. Di saat yang sama, organisasi dituntut memperluas kontribusi pada persoalan sosial dan kemasyarakatan, baik di Mamuju maupun Sulawesi Barat.
Seberapa jauh mandat Konfercab III diterjemahkan menjadi program konkret akan menjadi ukuran awal kinerja kepengurusan Irwan. Kader dan masyarakat di Mamuju menunggu arah kerja nyata dari kepemimpinan baru tersebut.