SULAWESI BARAT — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumpulkan sejumlah CEO perusahaan teknologi terbesar di Gedung Putih untuk menandatangani komitmen pengawasan mandiri model AI. Enam nama ikut membubuhkan tanda tangan, mulai dari Sundar Pichai (Google), Dario Amodei (Anthropic), Mark Zuckerberg (Meta), Jensen Huang (Nvidia), Greg Brockman (OpenAI), hingga Elon Musk (X). Kesepakatan ini menegaskan pendekatan Trump yang enggan menambah regulasi baru bagi industri AI.
Enam perusahaan teknologi menyepakati empat langkah pengawasan yang berlaku menyeluruh, bukan standar masing-masing perusahaan. Kesepakatan itu diteken langsung di Gedung Putih dalam jamuan makan siang yang juga dihadiri sejumlah menteri Kabinet dan Ketua DPR AS Mike Johnson.
Ada empat komitmen yang disetujui semua perusahaan. Pertama, menerapkan kontrol internal untuk memastikan model AI mematuhi standar keamanan siber.
Kedua, memberdayakan tim internal agar kontrol, pemantauan, dan deteksi berjalan sebagaimana mestinya. Ketiga, bermitra dengan operator eksternal untuk menilai model secara independen.
Keempat, menunjuk komite independen dari dewan direksi untuk menerima laporan hasil penilaian dan memastikan setiap masalah ditangani.
Selain enam penanda tangan, pertemuan itu dihadiri Alex Karp dari Palantir dan Jeff Bezos dari Amazon. Trump duduk didampingi para eksekutif teknologi dan melontarkan pujian kepada para CEO yang hadir.
"Saya melihat pengawasan mandiri yang luar biasa, dan mereka mengerti mereka harus mengawasi diri mereka sendiri. Model-model ini sangat kompleks dan sekali lagi, saya percaya mereka akan digunakan untuk kebaikan," kata Trump, dikutip dari CNN.
Trump mengunggah kesepakatan tersebut melalui akun Truth Social miliknya.
Brandon Daniels, CEO Exiger yang turut hadir, mengatakan para pemimpin teknologi berfokus pada gagasan Jensen Huang dan Mark Zuckerberg. Keduanya menilai kelompok tersebut perlu menyelaraskan diri dengan serangkaian standar dan prinsip yang berlaku menyeluruh, bukan sekadar standar individu atau berjalan sendiri-sendiri.
Standar tersebut dapat ditinjau dan diatur lewat perintah eksekutif atau regulasi baru. Daniels menyebut pertemuan itu sangat ramah dan menyoroti para pemimpin yang sebelumnya belum saling terhubung tampak bertukar nomor ponsel.
Ia memuji langkah presiden yang menyatukan kelompok tersebut dan menyebut tindakannya revolusioner.
Pertemuan digelar menyusul serangkaian insiden yang memicu kekhawatiran keamanan meluas terkait AI, termasuk agen AI yang bertindak di luar kendali dan mencoba meretas. Sejumlah CEO industri AI memperingatkan dampak bencana jika mereka kehilangan kendali atas teknologi tersebut.
Trump menepis kekhawatiran itu dan justru memperkuat keyakinannya bahwa industri AI mampu mengawasi dirinya sendiri tanpa tambahan regulasi. Ia menyatakan akan segera menandatangani perintah eksekutif untuk mengubah istilah "kecerdasan buatan" (artificial intelligence) menjadi "kecerdasan super".
Ia bersikeras pemerintah tidak boleh memperlambat pengembangan AI karena takut tertinggal dari China dan negara maju lainnya. "Ini adalah pertumbuhan yang luar biasa bagi negara kita. Siapa pun yang memenangkan SI (Kecerdasan Super) akan menang," sebutnya.
Beberapa minggu terakhir, Trump berulang kali menyampaikan keyakinan bahwa istilah kecerdasan buatan keliru dan lebih tepat disebut super. Ia mengaku telah membahas perubahan nama tersebut dengan pemimpin China Xi Jinping, yang tampak menyukainya. Departemen Luar Negeri AS pun memerintahkan para diplomat menggunakan istilah "kecerdasan super", menurut laporan Associated Press.