SULAWESI BARAT — Nilai tukar rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pagi ini, turun 0,12 persen atau 22 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.978. Level ini menjadi yang terlemah sepanjang sejarah dan membuka ruang uji rentang Rp18.075-Rp18.127 per dolar AS. Emiten dengan utang dan biaya operasional dolar AS disebut paling rentan terdampak dalam jangka pendek.
Data Bloomberg yang dikutip RRI menunjukkan rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar AS pada pukul 09.30 WIB. Posisi itu melanjutkan pelemahan 0,42 persen yang terjadi pada penutupan perdagangan Senin kemarin di Rp17.978 per dolar AS.
Analis Pasar Uang dan Pasar Modal dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan rupiah masih akan menguji rentang Rp18.075-Rp18.127 per dolar AS. Meski begitu, ia melihat peluang penguatan jangka pendek di area Rp17.960-Rp17.994 per dolar AS.
Herditya menyebut pelemahan rupiah bersumber dari indeks dolar AS yang bergerak menguat. Hari ini indeks dolar AS berada di level 101,21, naik tipis 0,05 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Penguatan dolar AS sejalan dengan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang tetap tinggi. Yield tenor 10 tahun berada di level 5,2 persen, sementara tenor dua tahun di posisi 4,91 persen.
Selisih imbal hasil yang lebar antara obligasi AS dan surat berharga negara Indonesia membuat investor global cenderung menempatkan dana di aset dolar AS. Tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah, pun berlanjut.
Dalam jangka pendek, Herditya menilai pelemahan rupiah akan berdampak negatif bagi pelaku pasar modal. Emiten yang memiliki utang dan biaya operasional dalam mata uang dolar AS menjadi kelompok paling terpapar.
Setiap kenaikan kurs dolar AS langsung menambah beban biaya bunga dan operasional emiten tersebut. Laba bersih mereka bisa tergerus meski pendapatan dalam rupiah tidak berubah.
Herditya menyampaikan pandangannya dalam keterangan tertulis kepada media.
"Dari sisi teknikal, kami masih mencermati akan adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," kata Herditya.
Meski tekanan masih dominan, Herditya tidak menutup peluang rupiah menguat dalam jangka pendek. Rentang Rp17.960-Rp17.994 per dolar AS menjadi area yang ia cermati.
Penguatan bisa terjadi jika indeks dolar AS berbalik melemah atau ada aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik. Namun, tanpa katalis tersebut, rupiah berpotensi bertahan di sekitar level Rp18.000.
Pergerakan rupiah sepanjang hari ini diprakirakan melemah, tapi masih ada peluang untuk menguat. Pasar akan mencermati data ekonomi AS dan perkembangan imbal hasil obligasi AS sebagai penentu arah selanjutnya.