SULAWESI BARAT — Laporan terbaru Counterpoint Research mengungkapkan pasar ponsel premium—perangkat dengan harga rata-rata di atas USD 600 (sekitar Rp 9,9 juta)—tumbuh 29% pada semester pertama 2026. Angka ini naik 4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, menjadikan segmen ini sebagai medan pertempuran paling panas bagi vendor global.
Kenaikan pangsa pasar Apple dari 63% menjadi 65% tidak lepas dari performa iPhone 17 series. Counterpoint mencatat model standar menjadi penyumbang penjualan terbesar, bukan varian Pro.
Menariknya, pertumbuhan pasar premium justru dipicu oleh kenaikan biaya memori dan komponen. Efeknya lebih terasa pada ponsel kelas menengah ke bawah yang marginnya tipis, memaksa vendor menaikkan harga jual.
"Seiring dengan kenaikan harga ponsel Android kelas menengah, selisih harganya dengan perangkat premium, terutama model flagship lawas atau yang didiskon, semakin menyempit," ujar Analis Senior Counterpoint Research Harshit Rastogi dalam laporannya, dikutip dari MacRumors, Minggu (9/8/2026).
"Tren ini menjadikan ponsel flagship sebagai pilihan upgrade yang lebih baik bagi konsumen," sambungnya.
Meski memimpin, pangsa pasar Apple di segmen premium sebenarnya turun dari 74% pada paruh pertama 2022. Counterpoint mengaitkan penurunan ini dengan agresivitas vendor China di pasar domestik.
Huawei, Xiaomi, Oppo, dan Vivo terus memperkuat lini flagship mereka. Oppo dan Vivo mencatatkan pertumbuhan signifikan masing-masing 69% dan 20%, meski porsi pasarnya masih jauh di bawah dua pemimpin pasar.
Untuk menjaga harga flagship tetap terjangkau di tengah inflasi komponen, sejumlah vendor mulai mengandalkan program tukar tambah, skema pembiayaan atau financing, serta buyback. Langkah ini dinilai efektif menurunkan hambatan finansial bagi konsumen yang ingin upgrade ke perangkat premium.
Bagi konsumen Indonesia, tren ini berarti pilihan ponsel flagship bekas atau diskon semakin menarik dibanding membeli perangkat kelas menengah baru. Namun, perlu dicermati bahwa data Counterpoint ini mencerminkan pasar global, bukan spesifik Indonesia—di mana preferensi harga dan kanal distribusi bisa berbeda.