SULAWESI BARAT — Sulit membayangkan adaptasi ideal Game of Thrones dalam bentuk CRPG modern. Warhorse Studios, pengembang Kingdom Come, kini diarahkan ke properti Lord of the Rings oleh Embracer. Obsidian Entertainment? Josh Sawyer, salah satu tokoh kuncinya, lebih sering mengeluh soal formasi perang yang tidak realistis di serial HBO daripada serius menggarap game Westeros. Di tengah kekosongan itu, ada satu game lawas yang justru menangkap esensi karya Martin: Game of Thrones versi Cyanide Studio yang rilis 2012.
Struktur naratif game ini membedakannya dari adaptasi lain. Pemain akan bergantian mengendalikan dua karakter utama di setiap bab: Alester Sarwyck, seorang pendeta R'hllor yang kehilangan hak warisnya, dan Mors Westford, anggota Night's Watch yang setia. Kedua perspektif ini perlahan bertemu di tengah konspirasi yang melibatkan keluarga Lannister.
Kronologi cerita dimulai satu atau dua bulan sebelum peristiwa awal serial HBO. Robert Baratheon masih hidup, Cersei Lannister sedang menyusun skenario politiknya, dan pemain berada tepat di pusat permainan para penguasa. Alih-alih menjadi penonton, kamu justru terlibat langsung dalam skema gelap yang menentukan arah perang di Westeros.
Cyanide memang bukan pengembang yang dikenal karena kualitas visual. Lingkungan King's Landing terlihat lebih mirip kota kecil di Inggris daripada ibu kota kerajaan yang megah. Beberapa pengisi suara karakter figuran terdengar dipaksakan, dengan aksen yang tidak konsisten untuk penduduk kelas bawah.
Namun di balik kekurangan itu, sistem pertarungan real-time-with-pause justru menawarkan ketegangan yang jarang ditemukan di game sejenis. Kamu akan sering berada dalam situasi kewalahan, mengandalkan kombinasi stun dan knockdown bersama rekan sementara yang tidak selalu membantu. Kemampuan shapeshifter Mors yang bisa mengendalikan anjing untuk mengendus pengkhianat di Night's Watch juga menjadi salah satu momen paling menarik.
Kualitas narasi game 2012 ini terlihat jelas ketika dibandingkan dengan Game of Thrones: Kingsroad yang dirilis 2025. Game action spectacle itu terasa mulus dan mengkilap, tapi kehilangan semangat dasar dari karya Martin. Cerita Westeros seharusnya terasa berat, berderit, dan penuh gesekan—bukan pengalaman yang halus dan mudah dicerna.
Game ini juga membuktikan bahwa adaptasi tidak harus mengikuti wajah para aktor HBO untuk terasa otentik. Meski beberapa karakter meminjam kemiripan visual dari serial, Cyanide jelas lebih banyak menggali novel-novelnya. Pendekatan ini menghasilkan cerita yang terasa lebih dalam dibanding sekadar tontonan murah.
Bagi pemain yang tumbuh dengan CRPG era 2000-an, game ini menawarkan nostalgia yang justru menjadi kekuatannya. Ketidaksempurnaan teknis terasa wajar ketika diimbangi dengan mekanisme unik dan dunia yang menarik untuk dijelajahi. Justru di situlah letak daya tariknya—sebuah pengingat bahwa adaptasi yang baik tidak selalu butuh anggaran besar.