SULAWESI BARAT — Pelemahan ini menambah deretan tekanan bagi mata uang Garuda yang dalam enam bulan terakhir sudah kehilangan 7,46 persen nilainya terhadap dolar AS. Posisi tersebut juga berbalik arah dari pembukaan perdagangan yang sempat berada di level bawah, yakni Rp17.953,6 per dolar AS.
Sepanjang sesi pagi ini, rupiah bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.966,9 hingga Rp18.027 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan tekanan jual terhadap rupiah masih dominan, meski sempat ada upaya penguatan di awal sesi.
Data historis Wise.com menunjukkan tren pelemahan rupiah yang persisten, bukan sekadar fluktuasi harian. Dalam periode satu bulan terakhir, dolar AS menguat 0,40 persen terhadap rupiah. Namun, laju depresiasi semakin cepat ketika melihat rentang waktu yang lebih panjang.
Sepanjang tiga bulan terakhir, dolar AS sudah menguat 3,75 persen. Angka ini membengkak menjadi 7,46 persen dalam enam bulan dan mencapai 9,95 persen secara tahunan. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal terhadap fundamental rupiah masih berlanjut.
Adapun rentang pergerakan USD/IDR dalam 52 minggu terakhir berada di kisaran Rp16.085 hingga Rp18.197,5 per dolar AS. Level tertinggi tersebut sekaligus menjadi acuan pelaku pasar dalam memantau potensi pelemahan lebih lanjut.
Kembalinya rupiah ke atas Rp18.000 per dolar AS mengonfirmasi bahwa level psikologis tersebut masih menjadi medan pertempuran utama antara sentimen global dan fundamental domestik. Dalam beberapa waktu terakhir, level ini menjadi acuan utama pelaku pasar dalam memantau dinamika kurs.
Pelemahan 67,4 poin pada hari ini terjadi setelah rupiah sempat menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Data Wise.com mencatat posisi penutupan perdagangan sebelumnya berada di level Rp17.953,6 per dolar AS, dan pembukaan hari ini sama persis di angka tersebut sebelum akhirnya anjlok.
Bagi pelaku usaha yang memiliki liabilitas dalam dolar AS, pergerakan ini berpotensi menambah beban biaya operasional. Sementara bagi investor, volatilitas kurs menjadi pertimbangan utama dalam alokasi aset, terutama di instrumen berbasis rupiah.
Dinamika nilai tukar ini masih akan dipengaruhi oleh berbagai sentimen ekonomi global maupun domestik. Pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan data ekonomi dan kebijakan moneter yang dapat memengaruhi arah rupiah ke depan.