SULAWESI BARAT — Dunia startup teknologi sedang mengalami pergeseran demografi. Pendiri berusia belasan dan awal 20-an kini mampu menggalang dana jutaan dolar AS tanpa pernah bekerja sehari pun di perusahaan raksasa seperti Google atau Meta. Kunci utamanya adalah penguasaan alat kecerdasan buatan (AI) yang kini bisa diakses siapa saja, yang secara drastis memangkas waktu dan sumber daya untuk membangun produk digital.
Fenomena ini terlihat dari kasus Arlan Rakhmetzhanov (19 tahun) dan Pranjali Awasthi (19 tahun), dua pendiri yang portofolionya menjadi sorotan investor modal ventura. Mereka mewakili gelombang baru wirausahawan yang berani mengambil risiko besar sejak usia sangat muda.
Rakhmetzhanov, yang mulai coding di usia 15 tahun di Kazakhstan, berhasil mendapatkan cek dari investor malaikat (angel investor) pada usia 17 tahun. Ia mengaku mengirim pesan dingin (cold DM) ke semua pendiri Y Combinator yang bisa ia temukan di LinkedIn. Perusahaannya, Nozomio, kini menjadi indeks API untuk agen AI dan telah mengantongi pendanaan lebih dari USD 6 juta (sekitar Rp 99 miliar).
“Saya menang atau kalah, dan banyak pendiri muda punya pola pikir yang sama. Mereka hanya ingin menang,” ujarnya kepada TechCrunch.
Sementara itu, Awasthi memilih drop out dari bangku SMA dan kemudian Georgia Tech untuk membangun Slashy, startup binaan Y Combinator yang disebut sebagai “Cursor untuk email”. Setelah lebih dari setahun menjalankan perusahaan itu, ia baru saja mengumumkan sedang menyiapkan startup baru yang masih tertutup (stealth mode).
Ashley Smith, general partner di firma tahap awal Vermilion, menjelaskan bahwa investor kini melihat bukti konkret kemampuan teknis calon pendiri. “Banyak pengembang muda belajar membangun perangkat lunak melalui kontribusi ke proyek open-source atau bermain dengan perangkat AI terbaru,” kata Smith. “Mereka punya lebih banyak waktu untuk melakukan itu saat kuliah atau lebih muda dibandingkan seseorang yang punya pekerjaan tetap dan cicilan rumah.”
Kendati peluang pendanaan terbuka lebar, para pendiri muda ini menghadapi tekanan yang jauh lebih kejam dibandingkan era startup sebelumnya. Smith menegaskan pasar tidak lagi memberi ruang untuk belajar perlahan. “Pengampunan yang dulu ada di tahap awal dan asumsi bahwa Anda akan berulang kali mencoba untuk mencapai product-market fit, saat ini tidak ada,” ujarnya. “Semua orang mencari Cursor berikutnya, padahal lintasan pertumbuhan seperti itu adalah pencilan, bukan norma.”
Tekanan ini diperparah dengan pengawasan publik yang intensif. Awasthi mengamati bahwa di tahun 2004, seorang pendiri bisa mengembangkan produk secara senyap selama bertahun-tahun tanpa diawasi. Kini, setiap putaran pendanaan, pencapaian, dan perubahan arah bisnis langsung menjadi konsumsi publik di LinkedIn dan Twitter (X).
“Sekarang ada tekanan lingkungan yang konstan dari LinkedIn dan Twitter di mana setiap penggalangan dana, setiap pencapaian, setiap pivot bersifat publik,” kata Awasthi.
Kondisi ini mendorong sebagian pendiri muda untuk melakukan pencitraan berlebihan demi menarik perhatian, bahkan terjerumus ke wilayah etika yang abu-abu. Smith menilai persaingan saat ini adalah tentang siapa yang bisa meyakinkan “paling banyak orang bahwa mereka lebih pintar dari semua orang di bidang ini, dan membuat keributan paling besar tentang hal itu.”
Kurangnya pengalaman juga membuat pendiri muda rentan terhadap tawaran kesepakatan yang predatoris. Demi mengejar pertumbuhan, angka pendapatan bisa terlihat menggelembung, dan pembuatan konten media sosial mulai menggeser waktu untuk menulis kode yang berkualitas. Padahal, Smith mengingatkan bahwa apa yang kurang dari para pendiri muda dalam hal pengalaman, mereka kompensasi dengan semangat bereksperimen dan tidak punya rasa takut.
Fenomena ini menjadi catatan penting bagi ekosistem startup global, termasuk Indonesia yang memiliki populasi wirausahawan muda besar. Akses ke AI memang mendemokratisasi peluang, namun realitas pendanaan ventura menuntut kematangan mental dan kejelian bisnis yang tidak selalu linier dengan usia.